Agama dan Masyarakat
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Agama
Disusun Oleh:
Nurdiansyah
Fachrudin Afriansyah
Mutiara Annisa
Syaviera Dena Ananda
JURUSAN
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013 M/ 1434 H
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah
serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“Agama dan Masyarakat” tepat pada waktunya untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sosiologi Agama. Dalam makalah ini, kami akan membahas beberapa hal mengenai
Tentunya dalam penulisan makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan
baik dari segi penulisan maupun dalam segi isi/ pembahasan. Untuk itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca agar kami dapat membuat makalah
yang lebih baik untuk tugas selanjutnya. Tidak lupa pula, kami ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta mendukung dalam penulisan
makalah yang sederhana ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
B. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Agama memberikan penjelasam
bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk berakhlak baik atau
buruk potensi buruk akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait
dengan naluri. Hubungan agama dan masyarakat dikaitkan dalam budaya. Agama mempunyai
hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk
selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaan. Masyarakat juga
melestrakian budaya, karena masyarakat yang menjalankan.
B. Tujuan
a. Untuk
mengetahui definisi agama dan masyarakat
b. Untuk
mengetahui teori fungsional agama
c.
Untuk mengetahui fungsi agama
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Agama dan Masyarakat
Definisi Agama dan Mayarakat terbagi beberapa
pendapat, diantaranya:
·
Menurut Mark Twain
Manusia adalah binatang beragama, sementara Mircea Eliade menyebutnya homo
religius. Karena sifatnya yang demikian, maka tidak ada masyarakat, baik pada
masa lampau dan sekarang, yang tidak beragama.
·
Menurut Talcot Parsons Agama merupakan suatu
komitmen terhadap perilaku. Agama tidak hanya berkembang denganide saja, tetapi
merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar. Agama berfungsi
mengintegrasikan perilaku masyarakat, baik perilaku lahiriah maupun simbolik.
Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang langsung berasal dari Tuhan.
Agama tidak hanya kepercayaan, tetapi perilaku atau amalan.
B. Teori Fungsional
Teori Fungsional
Masyarakat merupakan suatu sistem sosial, yang unsur-unsurnya saling
mempengaruhi satu dengan lainnya. Perubahan salah satu bagian akan mempengaruhi
bagian lain, yang akhirnya mempunyai dampak terhadap kondisi sistem secara
keseluruhan. Masyarakat dan kebudayaan merupakan dwi tunggal yang sukar
dibedakan. Di dalamnya tersimpul sejumlah pengetahuan yang terpadu dengan
kepercayaan dan nilai, yang menentukan perilaku anggota masyarakat. Dengan kata
lain, di dalam kebudayaan tersimpul suatu simbol maknawi (symbolic system of
meaning). Dilihat dari terminologi kebudayaan, agama merupakan cultural
universal, artinya agama terdapat di setiap daerah kebudayaan. Salah satu
prinsip teori fungsional adalah segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap
dengan sendirinya.
·
Menurut Milton Yinger,
dari sudut pandangan fungsional, agama dan non-agama adalah suatu kontium.
Misalnya Newton mengatakan kegiatan ahli ilmu kealaman bersifat keagamaan,
baginya hukum-hukum alam adalah hukum Tuhan.Einstein menganggap penemuan
benda-benda langit merupakan rangsangan terhadap semangat keagamaan.
Bronislow Malinowski menegaskan, bahwa
kebutuhan dasar manusia harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan sosial.
Namun di dalam kehidupan manusia senantiasa terdapat konflik antara rencana dan
kenyataan. Menurutnya agama berperan memberikan peluang kepada manusia bahwa
ada sumber kekuatan dan harapan yang lebih besar dari yang dimiliki oleh
manusia sendiri. Adanya kasus kematian yang membingungkan dan sukar diatasi
manusia, menurut Malinowski merupakan sumber utama dari lahirnya kepercayaan
agama.
C. Fungsi Agama
Fungsi Agama menurut beberapa pendapat:
a.
Robert K. Merton
mengatakan adanya dua fungsi yang diperankan oleh agama: 1.Fungsi manifest,
yaitu fungsi yang disadari dan disengaja. Misalnya kebutuhan menyembah Tuhan,
melaksanakan ibadah dll. 2.Fungsi latin, yaitu fungsi yang tersembunyi, tidak
disadari dan tidak disengaja. Misalnya memenuhi kebutuhan manusia.
b.
Fungsi agama dilihat
dari pemenuhan sebagian atau seluruh kebutuhan manusia:
1.Inklusifitas, memandang agama sebagai aturan
Tuhan yang sempurna untuk menjadi pedoman hidup manusia di dunia dan akhirat.
2.Eksklusifitas, agama dipandang hanya berkaitan dengan masalah-masalah
akhirat.
c. A.R. Radcliffe Brown, fungsi-fungsi dari kebanyakan pola-pola sosial
bukan harus ditelusuri dari kebutuhan individu, tapi pada kebutuhan masyarakat
secara keseluruhan. Misalnya, takut neraka atau mati, tidak akan ada jika agama
tidak mengajarkannya. Menurutnya fungsi agama bukan menghilangkan kecemasan,
tetapi malah mungkin menciptakan atau memperbesar kecemasa
d. Brown,
agama juga berfungsi untuk mencegah perilaku yang menyimpang. Pada kebanyakan
masyuarakat, di samping sangsi formal sebagai kontrol masyarakat, agama
berperan juga sebagai pengendali masyarakat. Pada masyarakat-masyarakat yang
bersahaja, bahkan penyimpangan terhadap norma-norma agama merupakan hal yang
tabu. Keadaan yang sama juga berlaku bagi orang yang taat beragama, yaitu
pantang baginya untuk melanggar norma-norma agamanya.
e. Thomas O’dea
1.Agama menyajikan
dukungan moral dari sarana emosional, pelipur di saat manusia menghadapi
ketidakastian.
2.Agama menyajikan
sarana hubungan transendental melalui ibadat, yang menimbulkan rasa damai dan
identitas diri baru yang menyegarkan.
3.Agama mengesahkan,
memperkuat, memberi legitimasi dan mensucikan nilai dan norma masyarakat yang
telah mapan, dan membantu mengendalikan ketenteraman, ketertiban, dan
stabilitas masyarakat.
4.Agama memberikan
standar nilai untuk mengkaji ulang nilai-nilai dan norma-norma yang telah
mapan.
5.Agama memberikan
rasa identitas diri, tentang siapa dan apa dia; sebagaimana dikemukakan Will
Herberg, bahwa salah satu cara orang Amerika membentuk identitas dirinya adalah
dengan masuk ke dalam kelompok keagamaan.
6.Agama memberikan status baru dalam
pertumbuhan dan siklus perkembangan individu melalui ritus.
f. Keith A. Roberts
1.Fungsi maknawi,
memberikan makna kepada perilaku setiap orang, yaitu mentransendensikan
pengalaman setiap orang.
2.Fungsi identitas,
memberikan kepada pemeluknya identitas sebagai orang yang beragama yang
sekaligus akan mengokohkan kepribadiannya. Pada saat yang sama dengan menyadari
identitasnya seorang individu akan bersikap dan berperilaku sesuai dengan
ajaran agamanya (menidentifikasikan dengan komunitas agamanya)
3.Fungsi struktural,
agama berfungsi mempertinggi stabilitas sosial (memperkecil terjadinya penyimpangan-penyimpangan),
memperkuat stratifikaksi sosial (adanya pengelompokkan sosial berdasarkan
status yang dimiliki atau berkaitan dengan agama), dan mendukung perubahan
sosial (adanya perubahan yang didasarkan pada agama).
Dalam agama-agama
Hindu Tao dan Kong Hu Cu,ada tiga macam agama dimana aspek komunal yang kuat.
Agama Hindu tidak dapat dipisahkan dari masyarakat India, sedangkan Kong HuCu
dan Tao tidak dapat dipisahkan oleh Bangsa Cina. Hal ini begitu merata dengan
peradaban India dan Cina dimana nama tradisional nama Hindu dan Kong Hu Cu
menekankan pembatasan agama pada masyarakat tertentu. Masing-masing Agama
terdiri dari beberapa peribadatan
Peran
Agama Dalam Masyarakat Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem
yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya.
I.
Definisi Agama Dengan singkat definisi agama menurut sosiologi
adalah definisi yang empiris. Sosiologi tidak pernah memberikan definisi agama
yang evaluative (menilai). Sosiologi angkat tangan mengenai hakikat agama,
baiknya atau buruknya agama atau agama–agama yang tengah diamatinya. Dari
pengamatan ini sosiologi hanya sanggup memberikan definisi deskriptif
(menggambarkan apa adanya) yang mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami
pemeluk-pemeluknya. Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu “sistem
kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal
yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi
suatu komunitas moral yang tunggal.” Dari definisi ini ada dua unsur yang
penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu “sifat kudus”
dari agama dan “praktek-praktek ritual” dari agama. Agama tidak harus
melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak
dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi,
ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini terlihat bahwa sesuatu dapat
disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang
melibatkan dua ciri tersebut. Sedangkan menurut pendapat Hendro puspito, agama
adalah suatu jenis sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses
pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayainya dan didayagunakannya
untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumya. Dalam kamus
sosiologi, pengertian agama ada 3 macam yaitu: 1. Kepercayaan pada hal-hal yang
spiritual 2. Perangkat kepercayaan dan praktek-praktek spiritual yang dianggap
sebagai tujuan tersendiri 3. Ideologi mengenai hal-hal yang bersifat
supranatural
II.
Ruang Lingkup Agama Secara garis besar ruang lingkup agama mencakup : a.
Hubungan manusia dengan tuhannya Hubungan dengan tuhan disebut ibadah. Ibadah
bertujuan untuk mendekatkan diri manusia kepada tuhannya. b. Hubungan manusia
dengan manusia Agama memiliki konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan dan
kemasyarakatan. Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran
agama mengenai hubungan manusia dengan manusia atau disebut pula sebagai ajaran
kemasyarakatan. Sebagai contoh setiap ajaran agama mengajarkan tolong-menolong
terhadap sesama manusia. c. Hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau
lingkungannya. Di setiap ajaran agama diajarkan bahwa manusia selalu menjaga
keharmonisan antara makluk hidup dengan lingkungan sekitar supaya manusia dapat
melanjutkan kehidupannya.
III. Fungsi dan Peran Agama Dalam Masyarakat
Dalam hal fungsi, masyarakat dan agama itu berperan dalam mengatasi
persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahakan
secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh
karena itu, diharapkan agama menjalankan fungsinya sehingga masyarakat merasa
sejahtera, aman, stabil, dan sebagainya. Agama dalam masyarakat bisa
difungsikan sebagai berikut : a. Fungsi edukatif. Agama memberikan bimbingan
dan pengajaaran dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti
syaman, dukun, nabi, kiai, pendeta imam, guru agama dan lainnya, baik dalam
upacara (perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani,
dsb. b. Fungsi penyelamatan. Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik
dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya
bisa mereka temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu
“yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya.
Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia
inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhan
dengan jalan pengampunan dan Penyucian batin. c. Fungsi pengawasan sosial
(social control) Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu : Agama meneguhkan
kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik bagi kehidupan moral warga
masyarakat. Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral ( yang
dianggap baik )dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum
Negara modern. d. Fungsi memupuk Persaudaraan. Kesatuan persaudaraan
berdasarkan kesatuan sosiologis ialah kesatuan manusia-manusia yang didirikan
atas unsur kesamaan. Kesatuan persaudaraan berdasarkan ideologi yang sama,
seperti liberalism, komunisme, dan sosialisme. Kesatuan persaudaraan
berdasarkan sistem politik yang sama. Bangsa-bangsa bergabung dalam sistem
kenegaraan besar, seperti NATO, ASEAN dll. Kesatuan persaudaraan atas dasar
se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan ini manusia bukan
hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya
dilibatkan dalam satu intimitas yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi
yang dipercayai bersama e. Fungsi transformatif. Fungsi transformatif disini
diartikan dengan mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama
dengan menanamkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat. Sedangkan menurut
Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama dan masyarakat yaitu: 1. Sebagai
pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi. 2. Sarana hubungan transendental
melalui pemujaan dan upacara Ibadat. 3. Penguat norma-norma dan nilai-nilai
yang sudah ada. 4. Pengoreksi fungsi yang sudah ada. 5. Pemberi identitas diri.
6. Pendewasaan agama. Sedangkan menurut Hendropuspito lebih ringkas lagi, akan
tetapi intinya hampir sama. Menurutnya fungsi agama dan masyarakat itu adalah
edukatif, penyelamat, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan
transformatif. Agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan
manusia dan masyarakat, karena agama memberikan sebuah system nilai yang
memiliki derivasi pada norma-norma masyarakat untuk memberikan pengabsahan dan
pembenaran dalam mengatur pola perilaku manusia, baik di level individu dan
masyarakat. Agama menjadi sebuah pedoman hidup singkatnya. Dalam memandang
nilai, dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama, nilai agama dilihat
dari sudut intelektual yang menjadikan nilai agama sebagai norma atau prinsip.
Kedua, nilai agama dirasakan di sudut pandang emosional yang menyebabkan adanya
sebuah dorongan rasa dalam diri yang disebut mistisme.